Saat Organisasi Mahasiswa Tak Lagi Menjadi Pilihan Utama

Pamekasan, – Di berbagai perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan kini menghadapi tantangan yang tidak bisa dianggap sepele, yaitu semakin sulitnya mencari kader baru untuk melanjutkan estafet kepengurusan. Fenomena ini bukan berarti mahasiswa kehilangan kepedulian terhadap organisasi, tetapi lebih menunjukkan adanya pergeseran cara pandang generasi muda dalam mengembangkan diri. Jika dahulu organisasi menjadi tempat utama untuk belajar kepemimpinan, membangun relasi, dan mengasah kemampuan berbicara di depan umum, kini banyak mahasiswa lebih memilih mengikuti program magang, kursus bersertifikat, kompetisi, atau bahkan bekerja sebagai freelancer karena dinilai lebih berdampak terhadap peluang karier mereka.

Perubahan orientasi tersebut juga dipengaruhi oleh tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif. World Economic Forum dalam The Future of Jobs Report 2025 menjelaskan bahwa perusahaan saat ini lebih membutuhkan lulusan yang memiliki keterampilan analitis, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, literasi digital, dan pengalaman praktis. Di sisi lain, survei National Association of Colleges and Employers (NACE) 2024 menunjukkan bahwa pengalaman magang dan keterampilan yang relevan menjadi salah satu pertimbangan utama perusahaan dalam merekrut lulusan baru. Kondisi inilah yang membuat banyak mahasiswa merasa bahwa waktu yang mereka miliki akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mengikuti kegiatan yang dapat memperkuat portofolio dan curriculum vitae (CV).

Di Indonesia, fenomena tersebut semakin terlihat sejak diterapkannya berbagai program pembelajaran di luar kampus, seperti Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM). Banyak mahasiswa memilih mengikuti magang industri, studi independen, proyek kemanusiaan, maupun program kewirausahaan. Pilihan tersebut tentu merupakan langkah yang positif karena memberikan pengalaman nyata di dunia kerja. Namun, di sisi lain, organisasi mahasiswa harus menerima kenyataan bahwa jumlah anggota aktif maupun calon pengurus semakin berkurang sehingga proses regenerasi menjadi tidak semudah beberapa tahun yang lalu.

Meski demikian, penyebab sulitnya regenerasi tidak sepenuhnya berasal dari perubahan minat mahasiswa. Organisasi mahasiswa juga perlu melakukan introspeksi. Tidak sedikit organisasi yang masih menjalankan pola kepengurusan yang kaku, program kerja yang bersifat seremonial, pembagian tugas yang kurang merata, bahkan budaya senioritas yang masih terasa. Kondisi seperti ini membuat mahasiswa baru enggan bergabung karena menganggap organisasi hanya menambah beban tanpa memberikan manfaat yang sebanding. Padahal, organisasi seharusnya menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus mampu memberikan pengalaman yang tidak diperoleh di dalam ruang kuliah.

Oleh karena itu, organisasi mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan semangat pengabdian sebagai daya tarik utama. Organisasi perlu bertransformasi menjadi wadah yang benar-benar relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Program kerja sebaiknya dirancang agar mampu meningkatkan kompetensi anggotanya melalui pelatihan, sertifikasi, kolaborasi dengan dunia industri, pengembangan proyek sosial, hingga pendampingan karier. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dalam koordinasi organisasi juga perlu diperkuat agar aktivitas organisasi menjadi lebih fleksibel dan tidak mengganggu kewajiban akademik mahasiswa. Budaya organisasi yang terbuka, menghargai setiap anggota, serta bebas dari senioritas yang berlebihan juga menjadi faktor penting agar mahasiswa merasa nyaman untuk bertahan dan melanjutkan kepengurusan.

Pada akhirnya, sulitnya regenerasi organisasi mahasiswa bukanlah tanda bahwa generasi muda tidak lagi peduli terhadap kepemimpinan atau kehidupan kampus. Justru yang berubah adalah ekspektasi mereka terhadap sebuah organisasi. Mahasiswa masa kini menginginkan wadah yang tidak hanya memberikan pengalaman berorganisasi, tetapi juga mampu meningkatkan kompetensi, memperluas jejaring, dan memberikan nilai tambah bagi masa depan mereka. Apabila organisasi mahasiswa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, maka organisasi akan kembali menjadi tempat yang diminati dan regenerasi kepengurusan dapat berlangsung secara berkelanjutan.**

**Oleh : Taufik hidayat (Pembina LPM Harokah IAI Al-Khairat Pamekasan)

Post Comment